Sejarah mencatat, perilaku manusia senantiasa didominasi sense hewani. Yaitu, tingginya nafsu menjadi penguasa, menjadi yang terhebat, memburu kenikmatan dan kepuasan yang bersifat fisik. Bahkan, Manusia menjadi buta akan religiusitas dan moralitas akibat dominasi nafsu hewaninya. Demi kekuasaan, dan memenuhi ambisi individunya, manusia rela melakukan apa saja. Tak jarang, kecenderungan untuk berkuasa, membuat perilaku manusia tak terkendali, seakan-akan tindakan pembantaian, pembunuhan, kekerasan, pemerasan, dianggap sebagai suatu keharusan demi menuruti kepuasan sense hewani manusia.
Tampaknya kecenderungan perilaku manusia ini sudah mengakar sejak zaman sebelum masehi hingga era modern sekarang. Hanya bentuk dan cara kekerasan yang digunakan sosok tiran yang berbeda. Sosok tiran klasik cenderung menggunakan cara imperialisme dan kolonialisme dengan jalan berperang memperebutkan wilayah kekuasaan dan perampasan harta kekayaan penduduk yang berlanjut pada penarikan pajak. Sementara itu, kaum tiran modern cenderung menggunakan kekuatan diplomasi, penyerangan lewat budaya, doktrin pemikiran, dan penekanan dalam menentukan berbagai kebijakan-kebijakan penting sebuah negara.
Hampir setiap negara melahirkan para pemimpin tiran, baik negara yang berbasis Islam, Kristen, Yahudi, Kunghucu, Hindu, dan lain-lain. Bahkan sistem pemerintahan sebuah negara pun tidak bisa menjamin lepas dari kemunculan tokoh-tokoh tiran, baik negara yang menganut sistem demokrasi, komunis, teknokrasi, dan kerajaan. Yang pasti, pemimpin-pemimpin tiran hanya akan patuh pada ambisi-ambisinya, dan senantiasa menghalalkan segala cara demi memenuhi kepuasan sense hewaninya.
Mulai dari Alexander Agung dari Yunani yang ekspansi kekuasaannya membunuh hampir 10% penduduk dunia, Adolf Hitler dengan kekuatan Nazi membantai ribuan kaum Yahudi, Genghis Khan ekspansinya ke daratan China melayangkan jutaan nyawa, Attila, di setiap perjalanannya meninggalakan tragedi pemerkosaan, pembunuhan, dan pembantaian. Saddam Hussein membantai ribuan kaum oposisi, Imam Khomeini, menghukum bagi mereka yang menentang sistem negara revolusi Islam Iran. Hingga Soekarno, yang mempekerjakan pribumi dan merencanakan budak seks ke Jepang. Dan Soeharto, melalui kekuatan politik dan militernya memberhanguskan lawan politik dan membantai jutaan manusia dengan tuduhan komunis.
Namun, sejarah juga mencatat, meski para tokoh tiran telah berhasil memenuhi hasrat dan nafsu hewaninya, hampir semuanya berakhir dengan ketidakbahagian. Hitler harus rela mati bunuh diri, para raja di Yunani dan Roma banyak yang meninggal karena dibunuh keluarganya sendiri, tokoh-tokoh komunis banyak yang meninggal di pertempuran, Bung Karno harus meninggal saat menjalani hukuman di pengasingannya dan Soeharto meninggal dengan dihantui berbagai kasus korupsi, kudeta, dan meninggalkan berbagai kasus besar lainnya.